Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Jelajah Kampung/Mengenal Sejarah Kampung Gowongan
Jelajah KampungUncategorized

Mengenal Sejarah Kampung Gowongan

By admin
August 24, 2026 2 Min Read
0

Sebagai kelurahan maupun kampung, kawasan Gowongan secara administratif tersurat dalam area Kecamatan Jetis. Ditelisik dari sumber tertulis, riwayat nama Kampung Gowongan berjejalin dengan jenis abdi dalem kerajaan. Akar katanya adalah gowong, yang menurut Poerwadarminta dalam Bausastra Jawa (1939), berarti abdi dalêm tukang kayu. Abdi dalem gowong ini diberi nama depan Handa. Karena kesetiaannya mengabdi pada raja dan punya peran penting bagi lingkungan keraton, maka gowong disediakan ruang khusus untuk ditinggali secara berkelompok. Masyarakat setempat lalu menyebut ruang hunian ini dengan nama Gowongan.

Bersama undagi,blandong, dan mergangsa, profesi gowong sangat dibutukan oleh pembesar kerajaan. Prajaduta (1939) menyurat: Tanah ing Pagêlèn kabagi: ingkang wetan siti sèwu, kilèn siti numbakanyar, sami kawajiban nyanggi bahu suku, mawi kasampiran abdi dalêm gowong.

Terdapat cerita ketika Hamengkubuwana I bersama seluruh keluarga dan pengikutnya pergi ke barat selepas Palihan Nagari 1755. Di dekat gunung Gamping, beliau melihat tempat yang rindang dan nyaman, lantas berhentilah di situ. Raja memerintahkan pengiringnya agar membangun pesanggarahan yang terletak di sisi barat gunung kecil. Para tukang kayu dikumpulkan dan dimulailah pembangunan pesanggrahan.

Dalam setiap pengerjaan proyek, raja acap mengawasi para pekerja agar lekas selesai. Antara lain, blandhong, mergangsa, gowong, dan undhagi. Sultan menitahkan undhagi mengukir balok penghubung tiang dan tempat tidur. Sedangkan gowong memasah (mengetam) kayu yang besar. Mergangsa ditugasi bikin gawang-gawang dan pintu. Berikutnya, blandhong mayoritas dari Gunung Kidul yang kaya pepohonan jati diminta menebang dan menggergajinya. Setelah rampung, potongan kayu jati diusung ke kota untuk digarap gowong, mergangsa dan undhagi. Begitulah setiap hari Sultan senantiasa membuat ukiran untuk hiasan di dalam rumah.

Tahun 1938 bulan Maret dalam majalah Kajawèn masih terdengar proyek sosial Keraton Kasultanan di Kampung Gowongan:

“Awit saking kaparêngipun parentah Kasultanan ing Ngayogyakarta, badhe ngêdêgakên griya kangge pangupakaran lare-lare ingkang kapiran. Caraning tumindak ing damêl miturut kados tatananipun Pa. v.d. Steur ing Magêlang. Miturut wartos ing sapunika lare ingkang badhe dipun upakara sampun wontên 62. papan ingkang badhe dipun êdêgi griya wau ing Gowongan Têngah. Têtiyangipun ingkang sami manggèn wontên ingriku sami kapurih pindhah kanthi dipun sukani lêlintu kapitunan. Dene waragadipun kintên-kintên f 15.000.”

 Terjemahan bebasnya: Atas titah dari Kesultanan Yogyakarta, bakal dibangun rumah untuk mengasuh anak-anak terlantar. Tatacara pelaksanaanya sesuai regulasi Pa v.d. Steur di Magelang. Menurut informasi sekarang ini bocah yang akan diasuh ada 62 jiwa. Tempat mendirikan rumah itu di Gowongan Tengah. Seluruh orang yang tinggal di sana diminta pindah dan diberi ganti rugi. Adapun biayanya sekitar 15.000.

Sekelumit kabar yang dipacak pewarta Kajawen ini cukup membantu tatkala memahami dinamika Kampung Gowongan (Tengah) yang melibatkan pihak kerajaan. Selain mengendus proyek sosial dengan sasaran anak-anak, juga menuntun pembaca meneropong pemilahan kampung yang terjadi sebelum tahun 1938

Sumber:

Toponim Kota Yogakarta, Nur Aini Sulistyowati dan Heri Priyatmoko, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019

Tags:

GowonganNama KampungSejarah Kampung
Author

admin

Follow Me
Other Articles
Wakil Walikota Yogyakarta Wawan Harmawan ketika mengunjungi warga Cokrodiningratan
Previous

Kursi Roda untuk Paulina, Sambang Kampung Cokrodirjan Ungkap Kebutuhan Infrastruktur dan RTHP

Next

Selai Jambu

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Warga Sekitar Kali Code Yogyakarta Kibarkan Bendera Merah Putih
  • HUT RI ke-81, Kampung Dipowinatan Gelar Karnaval hingga Pesta Rakyat Sepanjang Agustus
  • Selai Jambu
  • Mengenal Sejarah Kampung Gowongan
  • Kursi Roda untuk Paulina, Sambang Kampung Cokrodirjan Ungkap Kebutuhan Infrastruktur dan RTHP

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • August 2026
  • October 2025
  • September 2025

Categories

  • Etalase Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Kabar Kampung
  • Suara Kampung
  • Uncategorized
Copyright 2026 — kampungjogja.com. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme