Mengenal Sejarah Kampung Gowongan
Sebagai kelurahan maupun kampung, kawasan Gowongan secara administratif tersurat dalam area Kecamatan Jetis. Ditelisik dari sumber tertulis, riwayat nama Kampung Gowongan berjejalin dengan jenis abdi dalem kerajaan. Akar katanya adalah gowong, yang menurut Poerwadarminta dalam Bausastra Jawa (1939), berarti abdi dalêm tukang kayu. Abdi dalem gowong ini diberi nama depan Handa. Karena kesetiaannya mengabdi pada raja dan punya peran penting bagi lingkungan keraton, maka gowong disediakan ruang khusus untuk ditinggali secara berkelompok. Masyarakat setempat lalu menyebut ruang hunian ini dengan nama Gowongan.
Bersama undagi,blandong, dan mergangsa, profesi gowong sangat dibutukan oleh pembesar kerajaan. Prajaduta (1939) menyurat: Tanah ing Pagêlèn kabagi: ingkang wetan siti sèwu, kilèn siti numbakanyar, sami kawajiban nyanggi bahu suku, mawi kasampiran abdi dalêm gowong.
Terdapat cerita ketika Hamengkubuwana I bersama seluruh keluarga dan pengikutnya pergi ke barat selepas Palihan Nagari 1755. Di dekat gunung Gamping, beliau melihat tempat yang rindang dan nyaman, lantas berhentilah di situ. Raja memerintahkan pengiringnya agar membangun pesanggarahan yang terletak di sisi barat gunung kecil. Para tukang kayu dikumpulkan dan dimulailah pembangunan pesanggrahan.
Dalam setiap pengerjaan proyek, raja acap mengawasi para pekerja agar lekas selesai. Antara lain, blandhong, mergangsa, gowong, dan undhagi. Sultan menitahkan undhagi mengukir balok penghubung tiang dan tempat tidur. Sedangkan gowong memasah (mengetam) kayu yang besar. Mergangsa ditugasi bikin gawang-gawang dan pintu. Berikutnya, blandhong mayoritas dari Gunung Kidul yang kaya pepohonan jati diminta menebang dan menggergajinya. Setelah rampung, potongan kayu jati diusung ke kota untuk digarap gowong, mergangsa dan undhagi. Begitulah setiap hari Sultan senantiasa membuat ukiran untuk hiasan di dalam rumah.
Tahun 1938 bulan Maret dalam majalah Kajawèn masih terdengar proyek sosial Keraton Kasultanan di Kampung Gowongan:
“Awit saking kaparêngipun parentah Kasultanan ing Ngayogyakarta, badhe ngêdêgakên griya kangge pangupakaran lare-lare ingkang kapiran. Caraning tumindak ing damêl miturut kados tatananipun Pa. v.d. Steur ing Magêlang. Miturut wartos ing sapunika lare ingkang badhe dipun upakara sampun wontên 62. papan ingkang badhe dipun êdêgi griya wau ing Gowongan Têngah. Têtiyangipun ingkang sami manggèn wontên ingriku sami kapurih pindhah kanthi dipun sukani lêlintu kapitunan. Dene waragadipun kintên-kintên f 15.000.”
Terjemahan bebasnya: Atas titah dari Kesultanan Yogyakarta, bakal dibangun rumah untuk mengasuh anak-anak terlantar. Tatacara pelaksanaanya sesuai regulasi Pa v.d. Steur di Magelang. Menurut informasi sekarang ini bocah yang akan diasuh ada 62 jiwa. Tempat mendirikan rumah itu di Gowongan Tengah. Seluruh orang yang tinggal di sana diminta pindah dan diberi ganti rugi. Adapun biayanya sekitar 15.000.
Sekelumit kabar yang dipacak pewarta Kajawen ini cukup membantu tatkala memahami dinamika Kampung Gowongan (Tengah) yang melibatkan pihak kerajaan. Selain mengendus proyek sosial dengan sasaran anak-anak, juga menuntun pembaca meneropong pemilahan kampung yang terjadi sebelum tahun 1938
Sumber:
Toponim Kota Yogakarta, Nur Aini Sulistyowati dan Heri Priyatmoko, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019