Dari Baluwarti ke Kampung: Jejak Prajurit Keraton dalam Toponim Yogyakarta
Yogyakarta. Nama-nama kampung di Kota Yogyakarta menyimpan jejak sejarah pembentukan kota. Sejumlah kampung berasal dari nama kesatuan prajurit Keraton Yogyakarta yang dahulu bermukim di sekitar keraton. Keberadaan kampung-kampung tersebut berkaitan dengan perubahan politik dan militer Kasultanan Yogyakarta pada awal abad ke-19.
Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Sri Sultan Hamengku Buwono II, Keraton Yogyakarta memiliki kesatuan prajurit yang kuat. Para prajurit tinggal di dalam Benteng Baluwarti dan menempati posisi strategis dalam menjaga keraton. Keadaan berubah setelah pasukan Inggris menyerbu dan menguasai keraton pada 20 Juni 1812, dalam peristiwa yang dikenal sebagai Geger Sepehi. Sri Sultan Hamengku Buwono II diturunkan dari takhta dan diasingkan, sedangkan kekuatan militer keraton kemudian dibatasi.
Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IV, permukiman prajurit di dalam Benteng Baluwarti ditata ulang. Sebagian kesatuan prajurit beserta rumahnya dipindahkan ke luar benteng dan ditempatkan di sisi barat, selatan, dan timur keraton. Penempatannya membentuk pola menyerupai tapal kuda sehingga, meskipun kekuatan militernya telah dikurangi, para prajurit masih memiliki fungsi perlindungan terhadap keraton. Rumah tradisional Jawa yang terbuat dari kayu dan bersifat bongkar pasang memungkinkan bangunan dipindahkan dan disusun kembali di lokasi baru.
Lokasi permukiman tersebut kemudian berkembang menjadi kampung yang namanya berasal dari kesatuan prajurit penghuninya. Di sebelah barat keraton terdapat Wirobrajan dari Prajurit Wirabraja, Patangpuluhan dari Prajurit Patangpuluh, Ketanggungan dari Prajurit Ketanggung, Suronggaman dari Prajurit Surogama, dan Bugisan dari Prajurit Bugis.
Di sebelah selatan terdapat Dhaengan dari Prajurit Dhaeng, Mantrijeron dari Prajurit Mantrijero atau Mantrilebet, Jagakaryan dari Prajurit Jagakarya, serta Jageran dari Prajurit Jager yang bertugas mengawal raja ketika berburu di kawasan Krapyak. Kata jager berasal dari bahasa Belanda yang berarti pemburu.
Di sebelah tenggara dan timur keraton terdapat Prawirotaman dari Prajurit Prawiratama, Surokarsan dari Prajurit Surakarsa, serta Nyutran dari Prajurit Nyutra. Sementara itu, Langenastran dan Langenarjan, yang berasal dari nama prajurit pengawal Langenastra dan Langenarja, tetap berada di dalam kawasan Benteng Baluwarti, tepatnya di sebelah timur Alun-Alun Selatan.
Kini kampung-kampung tersebut tidak lagi secara khusus dihuni oleh prajurit keraton. Wilayahnya telah berkembang menjadi permukiman masyarakat umum, bahkan beberapa nama menjadi nama kelurahan dan kemantren. Meskipun demikian, nama kampung dan patung prajurit yang ditempatkan di sejumlah sudut jalan tetap menjadi penanda sejarah.
Toponim kampung prajurit bukan sekadar nama tempat, melainkan rekaman perubahan politik, pertahanan, dan tata ruang Yogyakarta. Melalui nama-nama tersebut, masyarakat dapat memahami proses pertumbuhan kota sekaligus menjadikannya pijakan untuk mengembangkan Yogyakarta tanpa kehilangan akar sejarah dan budayanya.
Sumber: Diolah dari https://www.kratonjogja.id/tata-rakiting/8-toponim-kampung-prajurit-di-yogyakarta/