Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Jelajah Kampung/Dari Baluwarti ke Kampung: Jejak Prajurit Keraton dalam Toponim Yogyakarta
Jelajah Kampung

Dari Baluwarti ke Kampung: Jejak Prajurit Keraton dalam Toponim Yogyakarta

By admin
August 25, 2026 2 Min Read
0

Yogyakarta. Nama-nama kampung di Kota Yogyakarta menyimpan jejak sejarah pembentukan kota. Sejumlah kampung berasal dari nama kesatuan prajurit Keraton Yogyakarta yang dahulu bermukim di sekitar keraton. Keberadaan kampung-kampung tersebut berkaitan dengan perubahan politik dan militer Kasultanan Yogyakarta pada awal abad ke-19.

Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Sri Sultan Hamengku Buwono II, Keraton Yogyakarta memiliki kesatuan prajurit yang kuat. Para prajurit tinggal di dalam Benteng Baluwarti dan menempati posisi strategis dalam menjaga keraton. Keadaan berubah setelah pasukan Inggris menyerbu dan menguasai keraton pada 20 Juni 1812, dalam peristiwa yang dikenal sebagai Geger Sepehi. Sri Sultan Hamengku Buwono II diturunkan dari takhta dan diasingkan, sedangkan kekuatan militer keraton kemudian dibatasi.

Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IV, permukiman prajurit di dalam Benteng Baluwarti ditata ulang. Sebagian kesatuan prajurit beserta rumahnya dipindahkan ke luar benteng dan ditempatkan di sisi barat, selatan, dan timur keraton. Penempatannya membentuk pola menyerupai tapal kuda sehingga, meskipun kekuatan militernya telah dikurangi, para prajurit masih memiliki fungsi perlindungan terhadap keraton. Rumah tradisional Jawa yang terbuat dari kayu dan bersifat bongkar pasang memungkinkan bangunan dipindahkan dan disusun kembali di lokasi baru.

Lokasi permukiman tersebut kemudian berkembang menjadi kampung yang namanya berasal dari kesatuan prajurit penghuninya. Di sebelah barat keraton terdapat Wirobrajan dari Prajurit Wirabraja, Patangpuluhan dari Prajurit Patangpuluh, Ketanggungan dari Prajurit Ketanggung, Suronggaman dari Prajurit Surogama, dan Bugisan dari Prajurit Bugis.

Di sebelah selatan terdapat Dhaengan dari Prajurit Dhaeng, Mantrijeron dari Prajurit Mantrijero atau Mantrilebet, Jagakaryan dari Prajurit Jagakarya, serta Jageran dari Prajurit Jager yang bertugas mengawal raja ketika berburu di kawasan Krapyak. Kata jager berasal dari bahasa Belanda yang berarti pemburu.

Di sebelah tenggara dan timur keraton terdapat Prawirotaman dari Prajurit Prawiratama, Surokarsan dari Prajurit Surakarsa, serta Nyutran dari Prajurit Nyutra. Sementara itu, Langenastran dan Langenarjan, yang berasal dari nama prajurit pengawal Langenastra dan Langenarja, tetap berada di dalam kawasan Benteng Baluwarti, tepatnya di sebelah timur Alun-Alun Selatan.

Kini kampung-kampung tersebut tidak lagi secara khusus dihuni oleh prajurit keraton. Wilayahnya telah berkembang menjadi permukiman masyarakat umum, bahkan beberapa nama menjadi nama kelurahan dan kemantren. Meskipun demikian, nama kampung dan patung prajurit yang ditempatkan di sejumlah sudut jalan tetap menjadi penanda sejarah.

Toponim kampung prajurit bukan sekadar nama tempat, melainkan rekaman perubahan politik, pertahanan, dan tata ruang Yogyakarta. Melalui nama-nama tersebut, masyarakat dapat memahami proses pertumbuhan kota sekaligus menjadikannya pijakan untuk mengembangkan Yogyakarta tanpa kehilangan akar sejarah dan budayanya.

Sumber:   Diolah dari https://www.kratonjogja.id/tata-rakiting/8-toponim-kampung-prajurit-di-yogyakarta/

Tags:

Kampung PrajuritKratonToponim
Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Kolaborasi Warga Kampung Gambiran dan KKN UII Dorong Pemberdayaan Berbasis Potensi Lokal

Next

Malam Ngudarasa dan Apresiasi Seni Kampung Pancasila Gowongan Semarakkan HUT RI Ke-81

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Inilah Daftar Nama 170 Kampung di Kota Yogyakarta Terbaru
  • Sambal Jambu: Pedas Segar, Beda dari Sambal Biasa!
  • Suryatmajan: Dari Jejak Ndalem Bangsawan hingga Kampung Wisata Berbasis Warga
  • Malam Ngudarasa dan Apresiasi Seni Kampung Pancasila Gowongan Semarakkan HUT RI Ke-81
  • Dari Baluwarti ke Kampung: Jejak Prajurit Keraton dalam Toponim Yogyakarta

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • August 2026

Categories

  • Etalase Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Kabar Kampung
  • Suara Kampung
  • Uncategorized
Copyright 2026 — kampungjogja.com. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme