Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Jelajah Kampung/Tegalpanggung: Dari Tanah Tegalan Menuju Kampung Perkotaan
Jelajah Kampung

Tegalpanggung: Dari Tanah Tegalan Menuju Kampung Perkotaan

By admin
August 27, 2026 4 Min Read
0

Tegalpanggung merupakan nama kelurahan sekaligus nama salah satu kampung di wilayah Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta. Dalam nomenklatur pemerintahan saat ini, istilah “kecamatan” untuk wilayah administratif di Kota Yogyakarta telah diganti menjadi “kemantren”. Meskipun menyandang nama yang sama, Kelurahan Tegalpanggung dan Kampung Tegalpanggung perlu dibedakan. Kelurahan merupakan wilayah administrasi pemerintahan, sedangkan kampung merupakan satuan sosial kemasyarakatan yang hidup di dalam wilayah kelurahan.

Asal-usul nama Tegalpanggung berkaitan erat dengan keadaan geografis kawasan tersebut pada masa lalu. Dalam ingatan kolektif masyarakat Yogyakarta, wilayah ini semula berupa kebun atau tanah tegalan yang terletak relatif lebih tinggi dibandingkan daerah di sekitarnya. Keadaan tersebut kemudian dikenang dan diabadikan menjadi nama Tegalpanggung.

Ditinjau secara semantik, nama Tegalpanggung tersusun dari kata tegal dan panggung. Dalam Bausastra Jawa karya W.J.S. Poerwadarminta yang terbit tahun 1939, tegal diartikan sebagai ara-ara, wêwêngkon; palêmahan sing ditanduri palawija lan sapiturute tanpa diêlêbi banyu. Artinya, tegal merupakan tanah lapang atau lahan yang ditanami palawija dan tanaman sejenis tanpa mendapatkan pengairan secara tetap.

Sementara itu, kata panggung secara umum menunjuk tempat atau bidang yang posisinya lebih tinggi. Dengan demikian, Tegalpanggung dapat dimaknai sebagai tanah tegalan yang berada di tempat tinggi atau menyerupai panggung. Penamaan tersebut memperlihatkan bahwa toponim di Yogyakarta tidak lahir secara sembarangan, tetapi sering kali merekam bentang alam dan cara masyarakat mengenali ruang tempat mereka hidup.

Tegalan merupakan salah satu bentuk awal sistem pertanian di Jawa. Sistem ini berkembang dalam peralihan kehidupan masyarakat dari budaya mengumpulkan hasil alam menuju budaya bercocok tanam. Berbeda dengan sawah yang memperoleh pasokan air secara teratur, tegalan bergantung pada curah hujan dan kesuburan alami tanah. Pengolahannya relatif sederhana dan biasanya berada terpisah dari halaman rumah.

Tanaman yang dibudidayakan di tegalan umumnya berupa jagung, ketela pohon, kedelai, kacang tanah, serta berbagai jenis kacang-kacangan dan sayuran. Pada beberapa tempat, tegalan juga ditanami kelapa, bambu, buah-buahan, dan pepohonan untuk kayu bakar. Hasilnya terutama digunakan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga petani. Batang jagung, daun, dan sisa tanaman juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Gambaran tersebut memperlihatkan watak kehidupan subsisten masyarakat Jawa pada masa lalu, ketika pengelolaan tanah berhubungan langsung dengan pemenuhan kebutuhan keluarga.

Nama Tegalpanggung dengan demikian menyimpan ingatan mengenai perubahan ruang. Wilayah yang dahulu berupa lahan pertanian kering di tempat relatif tinggi secara bertahap berkembang menjadi kawasan permukiman perkotaan. Bentang alamnya berubah, tetapi ingatan atas keadaan awal kawasan tersebut tetap bertahan melalui nama kampung dan kelurahan.

Keberadaan Tegalpanggung juga telah tercatat dalam literatur abad XIX. Dalam almanak terbitan H. Buning tahun 1895 disebutkan Raden Riya Kartadirja sebagai panêkar Têgalpanggung. Panekar merupakan pejabat atau utusan yang menjalankan tugas tertentu dalam lingkungan pemerintahan kerajaan. Tugasnya dapat berhubungan dengan penyampaian perintah, pelaksanaan pekerjaan pemerintahan, serta perencanaan pembangunan rumah, pesanggrahan, ataupun sarana pertahanan yang diperlukan raja.

Pada tahun yang sama, Winter dalam Pananggalan mencatat Raden Tumenggung Suryanagara sebagai polisi agêng panumping yang membawahi sejumlah pejabat wilayah. Mereka terdiri atas panekar Tegalpanggung; Raden Riya Kartaatmaja sebagai panekar Kadanurejan; Raden Lurah Atmasuwarna sebagai panekar Lempuyangan; dan Raden Panewu Kartapramuja sebagai panekar Maliyobara.

Catatan tersebut menjadi petunjuk bahwa nama Tegalpanggung telah dikenal setidaknya sejak akhir abad XIX. Penyebutan seorang panekar yang dikaitkan dengan Tegalpanggung juga menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah masuk ke dalam tata pemerintahan Kasultanan Yogyakarta. Meskipun demikian, fungsi, batas wilayah, dan kedudukan Tegalpanggung pada masa itu tentu tidak dapat langsung disamakan dengan kelurahan ataupun kampung dalam sistem pemerintahan sekarang.

Perubahan paling nyata terjadi ketika kawasan yang dahulu bercorak agraris itu berkembang menjadi permukiman padat di pusat Kota Yogyakarta. Lahan tegalan semakin berkurang karena beralih fungsi menjadi rumah, jalan, tempat usaha, fasilitas pendidikan, dan sarana pelayanan publik. Letaknya yang tidak jauh dari Malioboro, Stasiun Lempuyangan, dan pusat perdagangan kota membuat Tegalpanggung berada dalam pusaran mobilitas penduduk, kegiatan jasa, dan perkembangan ekonomi perkotaan.

Di tengah perkembangan tersebut, kelembagaan kampung tetap hidup. Pada November 2023, warga menyelenggarakan pemilihan Ketua Kampung Tegalpanggung untuk masa bakti 2024–2028. Pemilihan yang melibatkan unsur RT, panitia, dan warga itu menetapkan Jatmiko sebagai ketua kampung. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kampung masih menjadi ruang partisipasi dan pengorganisasian masyarakat meskipun tidak berkedudukan sebagai perangkat pemerintahan formal.

Tegalpanggung hari ini merupakan kawasan yang mempertemukan berbagai lapisan sejarah. Namanya menyimpan ingatan tentang tanah tegalan di tempat yang tinggi. Catatan abad XIX menunjukkan keterhubungannya dengan tata pemerintahan Kasultanan Yogyakarta. Sementara perkembangan terkini memperlihatkan wajah kampung perkotaan yang ditopang oleh pelayanan publik, kelembagaan warga, ekonomi kreatif, UMKM, kesenian, pengelolaan lingkungan, dan pariwisata berbasis masyarakat.

Karena itu, pelestarian Tegalpanggung sebaiknya tidak berhenti pada penyebutan nama. Sejarah kampung perlu ditelusuri melalui arsip lama, peta, data pertanahan, dan cerita lisan para sesepuh. Hasilnya dapat diwujudkan dalam profil kampung, papan informasi toponimi, jalur sejarah, dokumentasi digital, dan muatan edukasi bagi generasi muda. Dengan cara itu, kemajuan Tegalpanggung tidak menghapus jejak masa lalunya, melainkan menjadikan sejarah sebagai landasan untuk membangun kampung yang lebih hidup, inklusif, dan menyejahterakan warganya.

Sumber: Diolah dari Nur Aini Sulistyowati dan Heri Priyatmoko, Toponim Kota Yogyakarta, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019. Informasi mengenai perkembangan terkini Kampung Tegal Panggung dihimpun dari pemberitaan media dan portal resmi pemerintah dengan bantuan kecerdasan artifisial (AI) dalam proses penelusuran, pengolahan, dan penyuntingan informasi.

Tags:

Nama KampungTegal PanggungToponim
Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Sosrokusuman: Jejak Nama Lama di Tengah Dinamika Kota

Next

Tukangan dan Ledok Tukangan: Jejak Para Tukang di Jalur Kereta hingga Kampung Kota yang Terus Berubah

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Tukangan dan Ledok Tukangan: Jejak Para Tukang di Jalur Kereta hingga Kampung Kota yang Terus Berubah
  • Tegalpanggung: Dari Tanah Tegalan Menuju Kampung Perkotaan
  • Sosrokusuman: Jejak Nama Lama di Tengah Dinamika Kota
  • Kampung Gambiran: Dari Alas Gambir Menuju Kampung Hijau dan Budaya
  • Gemblakan: Dari Kampung Perajin Kuningan Menuju Kampung Jambu dan Sentra Usaha Warga

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • August 2026

Categories

  • Etalase Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Kabar Kampung
  • Suara Kampung
  • Uncategorized

info kontak: infokampungjogja@gmail.com

Copyright 2026 — kampungjogja.com. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme