Sosrokusuman: Jejak Nama Lama di Tengah Dinamika Kota
Kampung Sosrokusuman berada di wilayah Kelurahan Suryatmajan, Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta. Dalam sejumlah sumber lama, nama kampung ini ditemukan pula dalam bentuk “Sasrakusuman”. Perubahan pengucapan dan penulisan dari Sasrakusuman menjadi Sosrokusuman diduga mengikuti perkembangan pelafalan bahasa Jawa serta pembakuan nama wilayah dari masa ke masa. Meskipun demikian, penelusuran lebih lanjut terhadap arsip pertanahan, peta lama, dan administrasi Keraton Yogyakarta masih diperlukan untuk memastikan hubungan antara kedua bentuk nama tersebut.
Asal-usul nama Sasrakusuman dipercaya berkaitan dengan seorang tokoh bernama Sasrakusuma yang pernah tinggal atau mempunyai hubungan dengan kawasan tersebut. Pola penamaan semacam ini lazim dijumpai di Yogyakarta. Banyak nama kampung tumbuh dari nama bangsawan, pejabat keraton, kesatuan prajurit, profesi penduduk, ataupun tokoh yang dahulu mempunyai kediaman di tempat itu.
Ditinjau dari khazanah bahasa Jawa, nama Sasrakusuma mengandung pengertian yang baik. Menurut Wintêr dalam Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun (1928), kata sasra berarti sèwu atau seribu. Sementara itu, kusuma, sebagaimana diterangkan Dirjasupraba dalam Kawi-Jarwa (1931), berarti bunga atau kembang. Dengan demikian, Sasrakusuma secara harfiah dapat dimaknai sebagai “seribu bunga” atau “bunga yang jumlahnya seakan-akan seribu”. Secara simbolis, nama tersebut dapat menggambarkan keindahan, kemuliaan, serta harapan akan tumbuhnya berbagai kebaikan.
Nama Sasrakusuma juga dikenal dalam sejarah pemerintahan Jawa. Roorda dalam Javaansche Brieven (1845) menyebut seorang Raden Tumenggung Sasrakusuma Berbeg. Tokoh tersebut termasuk pejabat wilayah Bangwetan yang berada di bawah kekuasaan Yogyakarta. Dalam surat yang dimuat pada karya itu, Raden Tumenggung Sasrakusuma dikisahkan turut menghadapi keadaan keamanan di wilayah Madiun dan sekitarnya. Ia ditempatkan bersama sejumlah pejabat lain untuk menjaga kawasan di sekitar kaki Pegunungan Kendeng serta jalur menuju Ngawi dan Kartaarja.
Nama serupa kembali ditemukan dalam almanak terbitan H. Buning tahun 1895. Di dalamnya disebutkan seorang Raden Tumenggung Sasrakusuma yang menduduki jabatan bupati wadana distrik di Kabupaten Kalasan. Susunan pejabat di wilayah tersebut juga mencantumkan Ngabei Mangundimeja sebagai panewu, Raden Ngabei Mangunwilapa sebagai jaksa, dan Mas Ngabei Mangunsastra sebagai carik.
Munculnya nama Sasrakusuma dalam beberapa sumber sejarah menunjukkan bahwa nama tersebut pernah digunakan oleh lebih dari seorang bangsawan atau pejabat dalam lingkungan pemerintahan Jawa. Oleh karena itu, keberadaan tokoh-tokoh tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa salah satunya merupakan figur yang menjadi asal nama Kampung Sosrokusuman. Keterhubungan itu masih perlu diperkuat dengan sumber yang secara khusus menyebut kediaman, tanah, atau hubungan tokoh Sasrakusuma dengan wilayah Suryatmajan.
Dalam perkembangan administrasi Kota Yogyakarta, Sosrokusuman pernah berdiri sebagai Rukun Kampung atau RK. Setelah pembentukan Kelurahan Suryatmajan, RK Sosrokusuman digabung bersama lima RK lainnya, yaitu Ledok Macanan, Gemblakan Atas, Gemblakan Bawah, Suryatmajan, dan Cokrodirjan. Enam wilayah tersebut kemudian menjadi bagian dari Kelurahan Suryatmajan, yang sekarang terdiri atas 14 RW dan 43 RT. Nama yang digunakan secara resmi oleh Pemerintah Kota Yogyakarta saat ini adalah Sosrokusuman, bukan Sasrakusuman.
Letak Sosrokusuman yang berdekatan dengan Malioboro, kompleks Kepatihan, pertokoan, hotel, dan Jalan Mataram menjadikan kampung ini berada di tengah kawasan perkotaan dengan pergerakan ekonomi yang tinggi. Lingkungan Kelurahan Suryatmajan berkembang sebagai kawasan permukiman padat sekaligus penyangga pusat perdagangan dan pariwisata. Kegiatan ekonomi masyarakatnya antara lain ditopang oleh usaha kuliner, jasa, pondokan atau rumah kos, perdagangan kecil, dan pelayanan lain yang berhubungan dengan aktivitas di kawasan Malioboro.
Di tengah perubahan tersebut, kehidupan sosial dan tradisi kampung masih dipertahankan. Warga Sosrokusuman bersama masyarakat kampung lain di Kelurahan Suryatmajan terlibat dalam tradisi Ruwahan menjelang Ramadan. Dalam kegiatan tersebut, warga membuat apem, kolak, dan ketan serta membawa ulu bekti berupa hasil atau potensi masing-masing wilayah. Tradisi itu menunjukkan bahwa identitas kampung tidak semata-mata bertahan melalui nama, tetapi juga melalui praktik gotong royong dan kebudayaan yang terus diwariskan.
Perkembangan terbaru juga memperlihatkan menguatnya perhatian warga terhadap ketertiban dan kualitas lingkungan. Pada Mei 2025, masyarakat Sosrokusuman bersama warga Ledok Macanan mencanangkan Gerakan Kampung Panca Tertib. Gerakan tersebut meliputi tertib lingkungan, tertib usaha, tertib bangunan, tertib daerah milik jalan, dan tertib sosial. Agenda konkretnya mencakup pengelolaan sampah, penghijauan lingkungan, penataan pedagang kaki lima dan pondokan, edukasi mengenai persetujuan bangunan gedung, pengaturan parkir kendaraan pada satu sisi jalan, serta penguatan jam belajar masyarakat.
Kampung ini juga tetap terhubung dengan kegiatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Pada Juni 2026, Ketua Kampung Sosrokusuman bersama unsur kampung lain, pengelola bank sampah, kelompok sadar wisata, dan tokoh masyarakat menghadiri penerimaan mahasiswa KKN UGM di Kelurahan Suryatmajan. Keterlibatan tersebut membuka ruang kerja sama dalam pengembangan lingkungan, ekonomi warga, kebudayaan, dan kelembagaan kampung.
Dengan demikian, Sosrokusuman bukan sekadar nama wilayah yang tersisa dalam lembar administrasi. Kampung ini memperlihatkan pertemuan antara jejak sejarah Jawa, perubahan tata pemerintahan, kehidupan masyarakat perkotaan, dan upaya warga menjaga kualitas lingkungannya. Ketiadaan situs fisik yang secara tegas menandai keberadaan tokoh Sasrakusuma memang membuat riwayat awal kampung semakin sulit dikenali. Namun, nama Sosrokusuman masih hidup sebagai identitas sosial dan administratif.
Karena itu, pelestarian sejarah kampung tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan namanya. Pemerintah kelurahan dan masyarakat dapat menelusuri arsip lama, mengumpulkan cerita lisan para sesepuh, menyusun profil sejarah kampung, serta memasang penanda toponimi di ruang publik. Upaya tersebut penting agar Sosrokusuman tidak hanya dikenal sebagai kawasan permukiman di sekitar Malioboro, tetapi juga sebagai bagian dari bentang sejarah Kota Yogyakarta yang terus tumbuh dan berubah.
Sumber: Diolah dari Nur Aini Sulistyowati dan Heri Priyatmoko, Toponim Kota Yogyakarta, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019. Informasi mengenai perkembangan terkini Kampung Gambiran dihimpun dari pemberitaan media dan portal resmi pemerintah dengan bantuan kecerdasan artifisial (AI) dalam proses penelusuran, pengolahan, dan penyuntingan informasi.