Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Jelajah Kampung/Kampung Gambiran: Dari Alas Gambir Menuju Kampung Hijau dan Budaya
Jelajah Kampung

Kampung Gambiran: Dari Alas Gambir Menuju Kampung Hijau dan Budaya

By admin
August 26, 2026 6 Min Read
0

Kampung Gambiran merupakan salah satu kampung lama di Kelurahan Pandeyan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Wilayahnya meliputi RW 08, RW 09, RW 10, RW 11, dan RW 13. Kini, Gambiran dikenal melalui pengembangan ruang terbuka hijau, pertanian perkotaan, gerakan lingkungan, serta pelestarian seni dan tradisi masyarakat.

Di balik perkembangan tersebut, nama Gambiran menyimpan sejarah yang erat dengan dunia tumbuhan. Kawasan ini dipercaya dahulu banyak ditumbuhi pohon gambir. Keberadaan tanaman tersebut menarik perhatian masyarakat hingga wilayah itu kemudian dikenal sebagai Gambiran. Nama kampung ini menjadi rekaman tentang bentang alam dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Gambir dan Tradisi Nginang

Menurut pakar tumbuhan dan budayawan Imam Budi Santosa, pohon gambir (Uncaria gambir) telah lama dikenal masyarakat Jawa. Daun dan rantingnya diolah untuk menghasilkan getah, kemudian dikeringkan dan dicetak menjadi ekstrak berwarna kuning kecokelatan hingga kehitaman.

Ekstrak gambir menjadi salah satu bahan dalam tradisi makan sirih atau nginang. Kebiasaan ini dahulu dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki, termasuk raja, bangsawan, dan penghuni istana.

Kinang pada umumnya terdiri atas daun sirih, buah jambe atau pinang, gambir, dan injet atau kapur sirih. Dalam kebiasaan tertentu, tembakau digunakan sebagai susur setelah mengunyah sirih. Rangkaian kinang juga dapat dilengkapi bunga kantil dan dikemas menggunakan daun pisang.

Bahan-bahan tersebut menghasilkan perpaduan rasa pahit, sepat, getir, dan pedas yang menggambarkan beragam pengalaman dalam kehidupan manusia. Daun sirih yang membungkus seluruh ramuan menjadi lambang penyatuan rasa, sedangkan bunga kantil dimaknai sebagai harapan agar hati manusia selalu melekat pada nilai-nilai kebaikan dan ingat kepada Tuhan.

Di lingkungan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, kinang juga hadir dalam perayaan Sekaten. Gambir dengan demikian tidak hanya menjadi hasil tanaman, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat Jawa.

Gambiran dalam Sumber Sejarah

Nama Gambiran ditemukan dalam sejumlah teks Jawa lama. Salah satunya terdapat dalam Babad Giyanti, naskah yang memuat berbagai peristiwa menjelang dan sesudah berdirinya Kasultanan Yogyakarta:

“Sawusira maos tulis, pangeran kalangkung suka, ngundhangi wadya ambêndhe, samêkta kang bala budhal, pangran dhatêng Mataram, amargi ing ardi Kidul, sapraptanira Mataram, dhusun ing Gambiran nênggih, baris Dipati Janingrat.”

Secara bebas, kutipan tersebut berarti:

“Setelah membaca surat, pangeran sangat senang. Ia memanggil para prajurit dengan membunyikan bende. Setelah pasukan siap, pangeran berangkat menuju Mataram melalui pegunungan selatan. Sesampainya di Mataram, tepatnya di Desa Gambiran, terdapat barisan Dipati Janingrat.”

Padmasusastra dalam Bausastra yang diterbitkan pada 1898 turut menyebut Dusun Gambiran sebagai tempat makam Kyai Wirasasmita. Sementara itu, majalah Kajawèn terbitan Balai Pustaka edisi 1932 menulis:

“Pasarean Gambiran, lèr kilèn Kitha Agêng têbih cêlakipun sakilo mètêr, ingkang sumare Kyai Agêng Jurukithing, Kyai Dhadhaptulis, kathah malih panunggilanipun.”

Keterangan tersebut menyebut Pasarean Gambiran yang berada di sebelah barat laut Kotagede, berjarak sekitar satu kilometer. Di tempat itu dimakamkan Kyai Ageng Jurukithing, Kyai Dhadhaptulis, dan sejumlah tokoh lainnya.

Sumber-sumber tersebut menunjukkan bahwa nama Gambiran telah dikenal setidaknya sejak abad ke-18. Namun, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan bahwa setiap penyebutan Gambiran dalam naskah lama merujuk pada kawasan yang sama dengan Kampung Gambiran di Kelurahan Pandeyan saat ini.

Dua Versi Asal-Usul Nama Gambiran

Dalam tradisi tutur masyarakat, terdapat dua versi mengenai asal-usul nama Gambiran. Versi pertama menyebut wilayah ini dahulu merupakan Alas Gambir, yaitu kawasan yang banyak ditumbuhi pohon gambir. Keberadaan tanaman itulah yang kemudian melahirkan nama Gambiran.

Versi kedua menghubungkan nama Gambiran dengan kata gumbira atau gembira. Kisah ini berkaitan dengan kepulangan Ki Juru Kinthing setelah memperoleh kemenangan dalam peperangan. Rasa gembira atas kemenangan tersebut dipercaya menjadi asal penamaan kampung.

Dari kedua versi itu, penjelasan yang menghubungkan Gambiran dengan pohon gambir memiliki keterkaitan toponimi yang lebih kuat. Sementara versi gumbira tetap perlu dicatat sebagai bagian dari tradisi lisan masyarakat.

Ki Juru Kithing sendiri dikenang sebagai tokoh yang berhubungan dengan perkembangan awal Kampung Gambiran. Ingatan terhadapnya diwujudkan melalui Bregada Juru Kinthing yang tampil dalam kirab budaya dan Merti Kampung.

Perubahan dari Lahan Pertanian Menjadi Permukiman

Beberapa dasawarsa lalu, sebagian wilayah Gambiran masih berupa lahan pertanian yang subur. Padi dan palawija menjadi sumber penghidupan masyarakat. Setelah panen, warga mengadakan majemukan atau merti desa sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi.

Perkembangan Kota Yogyakarta kemudian mengubah bentang kawasan. Lahan pertanian menyusut dan beralih menjadi permukiman. Perubahan tersebut juga memengaruhi kehidupan sosial serta keberlangsungan tradisi agraris masyarakat.

Untuk memperkuat kembali hubungan antarwarga, Merti Kampung Gambiran dihidupkan melalui kirab budaya yang melibatkan lima RW. Setiap wilayah membawa gunungan yang menggambarkan potensi warga. Kirab yang dimulai dari Taman Legawong itu juga menampilkan berbagai kesenian, termasuk Bregada Juru Kithing.

Berkembang sebagai Kampung Hijau

Di tengah menyusutnya lahan pertanian, warga Gambiran mengembangkan gerakan lingkungan dan pertanian perkotaan. Usaha tersebut dilakukan melalui penghijauan, pengelolaan ruang terbuka, penanaman sayuran, serta perawatan kawasan tepian Sungai Gajah Wong.

Salah satu ruang publik yang berkembang adalah Taman Legawong. Nama Legawong berasal dari gabungan kata ledok, Gambiran, dan Gajah Wong. Taman ini digunakan untuk kegiatan warga, pendidikan lingkungan, pertanian perkotaan, serta pertunjukan seni dan budaya.

Selain Taman Legawong, terdapat Taman Pandeyan dan Gajah Wong Educational Park yang menjadi bagian dari ruang hijau kawasan. Tempat-tempat tersebut berfungsi sebagai ruang interaksi, sarana edukasi, daerah resapan, dan penyangga ekologis di tengah permukiman.

Pemerintah Kelurahan Pandeyan mencatat Gambiran sebagai kawasan dengan potensi ruang terbuka hijau, Kampung Hijau, Kampung Sayur, serta seni dan budaya. Perkembangan ini menunjukkan bahwa sejarah agraris Gambiran tetap hadir dalam bentuk baru yang sesuai dengan kehidupan perkotaan.

Menanam Kembali Pohon Gambir

Pada 2026, masyarakat mulai mengembalikan pohon gambir sebagai ikon kampung. Upaya ini berangkat dari kenyataan bahwa tanaman yang menjadi asal-usul nama Gambiran justru sudah sulit ditemukan di wilayah tersebut.

Penanaman dilakukan pada 8 Februari 2026 bersamaan dengan tradisi Nyadran di Makam Gambiran. Sekitar 20 pohon direncanakan ditanam di Makam Gambiran, Taman Legawong, Taman Pandeyan, Gajah Wong Educational Park, dan sekitar tugu penanda kampung. Bibitnya didatangkan dari Sumatera karena tanaman gambir tidak lagi mudah diperoleh di Yogyakarta.

Karena sebagian bibit belum berhasil tumbuh, masyarakat bekerja sama dengan mahasiswa KKN UPN Veteran Yogyakarta untuk melakukan penyemaian. Pada 9 Mei 2026, biji gambir yang didatangkan dari Kepulauan Riau disemai di Taman Pandeyan. Setelah tumbuh, bibit akan dipindahkan ke polibag sebelum ditanam di halaman rumah dan sepanjang Sungai Gajah Wong.

Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga dilibatkan untuk mendampingi proses budidaya. Program tersebut diarahkan agar pohon gambir tidak berhenti sebagai simbol, tetapi benar-benar tumbuh dan menjadi bagian dari lanskap kampung.

Merawat Tradisi dan Kebersamaan

Selain menghidupkan kembali tanaman gambir, masyarakat terus mempertahankan tradisi Nyadran. Menjelang Ramadan, warga membersihkan makam, berziarah, berdoa untuk para leluhur, serta mengadakan kenduri dan makan bersama.

Nyadran menjadi sarana untuk merawat hubungan dengan para pendahulu, sedangkan penanaman gambir mengembalikan identitas ekologis kampung. Keduanya bertemu dalam semangat yang sama, yaitu menjaga ingatan kolektif dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Kegiatan budaya juga berkembang melalui Merti Kampung, kirab, bregada, pentas seni, dan gelar potensi “Gambiran Gumregah”. Aktivitas tersebut memperkuat kedudukan Gambiran sebagai bagian dari rintisan kampung budaya di Kelurahan Pandeyan.

Gerakan Pengelolaan Sampah

Sebagai Kampung Hijau, Gambiran juga mengembangkan pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga. Pada November 2025, warga RW 13 bersama Pemuda Trisna Taruna dan mahasiswa KKN Universitas Ahmad Dahlan mengadakan Grebeg Sampah Kampung Gambiran.

Edukasi dilakukan dari rumah ke rumah untuk memetakan kebiasaan warga dalam mengelola sampah organik, anorganik, serta bahan berbahaya dan beracun. Warga juga diperkenalkan pada budidaya maggot sebagai salah satu cara mengolah sampah organik.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa gerakan kebersihan tidak cukup mengandalkan kerja bakti. Perubahan harus dimulai dari pemilahan sampah di setiap rumah dan didukung dengan fasilitas serta pendampingan yang berkelanjutan.

Menjaga Akar, Menumbuhkan Masa Depan

Perjalanan Gambiran memperlihatkan perubahan dari kawasan yang dahulu dipenuhi tanaman gambir dan lahan pertanian menjadi permukiman perkotaan yang padat. Namun, sejarah tersebut tidak ditinggalkan.

Pohon gambir mulai dihadirkan kembali sebagai penanda toponimi dan sarana pendidikan. Tradisi Nyadran dan Merti Kampung menjaga hubungan antargenerasi. Sementara itu, Kampung Hijau, Kampung Sayur, ruang terbuka, dan pengelolaan sampah menunjukkan kemampuan warga menjawab persoalan lingkungan masa kini.

Ke depan, tanaman gambir dapat dikembangkan sebagai bagian dari kebun edukasi, penelitian, motif batik, identitas visual, dan produk kreatif kampung. Pengolahan tanaman untuk produk kesehatan, pangan, atau kosmetik tetap harus didukung penelitian, standardisasi, dan perizinan yang sesuai.

Dengan demikian, Gambiran bukan hanya dikenang sebagai tempat yang dahulu ditumbuhi pohon gambir. Kampung ini tumbuh sebagai ruang pertemuan antara sejarah, kebudayaan, kelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Sumber: Diolah dari Nur Aini Sulistyowati dan Heri Priyatmoko, Toponim Kota Yogyakarta, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019. Informasi mengenai perkembangan terkini Kampung Gambiran dihimpun dari pemberitaan media dan portal resmi pemerintah dengan bantuan kecerdasan artifisial (AI) dalam proses penelusuran, pengolahan, dan penyuntingan informasi.

Tags:

GambiranKampung hijauNama KampungToponim
Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Gemblakan: Dari Kampung Perajin Kuningan Menuju Kampung Jambu dan Sentra Usaha Warga

Next

Sosrokusuman: Jejak Nama Lama di Tengah Dinamika Kota

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Tukangan dan Ledok Tukangan: Jejak Para Tukang di Jalur Kereta hingga Kampung Kota yang Terus Berubah
  • Tegalpanggung: Dari Tanah Tegalan Menuju Kampung Perkotaan
  • Sosrokusuman: Jejak Nama Lama di Tengah Dinamika Kota
  • Kampung Gambiran: Dari Alas Gambir Menuju Kampung Hijau dan Budaya
  • Gemblakan: Dari Kampung Perajin Kuningan Menuju Kampung Jambu dan Sentra Usaha Warga

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • August 2026

Categories

  • Etalase Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Kabar Kampung
  • Suara Kampung
  • Uncategorized

info kontak: infokampungjogja@gmail.com

Copyright 2026 — kampungjogja.com. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme