Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
kampungjogja.com kampungjogja.com kampungjogja.com
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
  • Home
  • Kabar Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Etalase Kampung
  • Suara Kampung
  • Tentang Kami
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Jelajah Kampung/Gemblakan: Dari Kampung Perajin Kuningan Menuju Kampung Jambu dan Sentra Usaha Warga
Jelajah Kampung

Gemblakan: Dari Kampung Perajin Kuningan Menuju Kampung Jambu dan Sentra Usaha Warga

By admin
August 26, 2026 7 Min Read
0

Kampung Gemblakan terletak di sisi utara Kampung Suryatmajan, tidak jauh dari kawasan Malioboro dan Jalan Mataram. Secara administratif, wilayah ini terbagi menjadi Kampung Gemblakan Atas dan Kampung Gemblakan Bawah. Keduanya berada di Kelurahan Suryatmajan, Kemantren Danurejan, Kota Yogyakarta.

Jalan Mataram menjadi salah satu ruas utama yang berhubungan dengan kawasan tersebut. Sebelum menggunakan nama Jalan Mataram, ruas jalan ini dikenal sebagai Jalan Gemblakan. Nama lama itu memperlihatkan kuatnya kedudukan Gemblakan sebagai penanda geografis dalam perkembangan Kota Yogyakarta.

Nama Gemblakan dipercaya berhubungan dengan jenis pekerjaan abdi dalem kerajaan. Kata dasarnya adalah gemblak, yang dalam konteks sejarah toponimi Yogyakarta berarti tukang atau perajin kuningan.

Penjelasan tersebut ditemukan dalam Javaansche Woordenlijst karya De Nooy yang terbit pada 1893. Dalam pustaka itu, gemblak diterangkan sebagai tukang kuningan yang tinggal di sekitar Perempatan Gemblakan atau Gemblekan. De Nooy menuliskan kalimat:

“Ing kampung kono kunane panggonane tukang kuningan.”

Artinya, “Di kampung tersebut dahulu merupakan tempat para tukang kuningan.”

Keterangan tersebut menguatkan dugaan bahwa Kampung Gemblakan pada awalnya merupakan kawasan tempat tinggal atau tempat bekerja para perajin kuningan. Dalam tradisi penamaan kampung di Yogyakarta, pola semacam ini lazim ditemukan. Nama kampung sering muncul dari pekerjaan, keahlian, kesatuan prajurit, kelompok abdi dalem, atau tokoh yang dahulu bermukim di tempat tersebut.

Karena itu, pengertian gemblak dalam konteks Kampung Gemblakan perlu dibedakan dari pemaknaan lain yang menghubungkannya dengan ledhek lanang atau penari laki-laki. Penafsiran terakhir antara lain pernah disebut dalam kajian Salamun tahun 1989/1990. Namun, apabila merujuk pada kamus De Nooy yang lebih tua, hubungan Gemblakan dengan kelompok tukang kuningan memiliki dasar historis yang lebih kuat.

Meskipun demikian, penguatan kesimpulan tersebut masih memerlukan penelusuran terhadap arsip keraton, peta lama, daftar abdi dalem, serta catatan kependudukan kolonial. Kajian toponimi sebaiknya menempatkan sumber tertulis, tradisi tutur, dan bukti material secara berdampingan.

Perajin Kuningan dalam Kehidupan Keraton

Para gemblak memiliki keahlian dalam mengolah dan merawat benda-benda berbahan kuningan. Kemampuan tersebut dibutuhkan dalam lingkungan istana, terutama untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan keluarga kerajaan dan bangsawan.

Kuningan digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain gagang pintu, engsel dan pengunci lemari, hiasan perabot, paku kayu, perangkat upacara, alat musik, serta ornamen pada bangunan. Karena benda-benda tersebut harus dirawat dan diperbaiki secara berkala, keahlian para tukang kuningan memiliki tempat tersendiri dalam pembagian kerja masyarakat keraton.

Secara material, kuningan merupakan paduan logam tembaga dan seng. Komposisi kedua unsur tersebut menentukan warna, kekuatan, kelenturan, dan kegunaannya. Dalam rujukan teknis Departemen Pekerjaan Umum tahun 1985 disebutkan bahwa kadar tembaga dalam kuningan dapat berada pada kisaran 60–96 persen. Dalam pertukangan modern dikenal antara lain kawat kuningan atau brass wire dan pipa kuningan tanpa sambungan atau seamless brass tube.

Keahlian mengolah kuningan dengan demikian bukan pekerjaan sederhana. Seorang perajin harus memahami cara membentuk, menyambung, menghaluskan, mengukir, dan merawat permukaan logam. Mereka menjadi bagian dari ekosistem produksi benda-benda keraton yang melibatkan berbagai jenis tenaga terampil.

Kuningan dalam Kepercayaan Masyarakat Jawa

Kuningan tidak hanya dipandang sebagai bahan untuk membuat perkakas dan benda hias. Dalam kebudayaan Jawa, logam ini juga memperoleh makna simbolis dan spiritual. Benda yang dikenal sebagai wesi kuning, misalnya, dalam kepercayaan tertentu dianggap memiliki kekuatan untuk melindungi pemiliknya dari gangguan atau marabahaya. Benda tersebut juga kerap dikaitkan dengan kewibawaan, kekebalan, dan harapan memperoleh rezeki.

Dalam folklor Jawa Timur terdapat kisah mengenai pusaka kuningan yang dikaitkan dengan pecahan gada besi kuning milik Minak Jinggo. Dalam cerita Damarwulan–Minak Jinggo, pusaka tersebut dihancurkan atau direbut dalam rangkaian pertarungan kedua tokoh. Cerita itu kemudian hidup dalam tradisi lisan dan berbagai bentuk seni pertunjukan, seperti ketoprak, wayang, dan drama tari.

Cerita rakyat tersebut tentu tidak dapat diperlakukan sebagai bukti langsung mengenai asal-usul Kampung Gemblakan. Namun, ia menunjukkan bahwa kuningan menempati ruang penting dalam imajinasi budaya masyarakat Jawa: sebagai bahan perkakas, unsur keindahan, penanda kedudukan, sekaligus benda yang diberi nilai simbolis.

Sampai sekarang, unsur kuningan masih mudah dijumpai pada rumah tradisional, kompleks keraton, ndalem bangsawan, alat musik, aksesori, dan berbagai perlengkapan upacara. Akan tetapi, diperlukan penelitian lapangan lebih lanjut untuk mengetahui apakah mata rantai perajin kuningan lama masih bertahan di Gemblakan atau telah berpindah ke wilayah lain.

Perubahan Identitas Kampung

Perkembangan kota secara perlahan mengubah wajah Gemblakan. Identitasnya tidak lagi hanya berhubungan dengan pekerjaan para perajin kuningan. Gemblakan Atas dan Gemblakan Bawah berkembang sebagai permukiman padat di sekitar pusat perdagangan, pemerintahan, pariwisata, dan jasa.

Kedekatannya dengan Malioboro memberikan peluang ekonomi yang besar. Namun, posisinya di sekitar bantaran Sungai Code juga menghadirkan sejumlah tantangan, terutama kepadatan bangunan, keterbatasan ruang terbuka, risiko banjir, kebakaran permukiman, pengelolaan sampah, dan kebutuhan akan jalur evakuasi.

Dari keadaan tersebut, kedua kampung kemudian mengembangkan arah yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Gemblakan Atas menonjol melalui pertanian perkotaan dan pengolahan jambu, sedangkan Gemblakan Bawah berkembang melalui penataan permukiman, kesiapsiagaan bencana, dan penguatan sentra usaha makanan.

Gemblakan Atas Menjadi Kampung Jambu

Gemblakan Atas kini dikenal sebagai Kampung Jambu. Gerakan yang sering disebut sebagai “jambunisasi” mulai dikembangkan warga sekitar 2018. Di tengah keterbatasan lahan permukiman kota, warga menanam pohon jambu di depan rumah, halaman, lorong, dan ruang-ruang sempit yang masih dapat dimanfaatkan.

Pada perkembangan berikutnya, tercatat sekitar 250 pohon dengan 18 varietas jambu air tumbuh di kampung tersebut. Budidaya ini memperlihatkan bahwa pertanian perkotaan tetap dapat dikembangkan di kawasan yang padat apabila ditopang oleh kreativitas dan kerja bersama warga.

Jambu yang dihasilkan tidak hanya dikonsumsi sebagai buah segar. Kelompok Tani Jambu Gemblakan Atas mengolahnya menjadi sedikitnya 18 jenis produk makanan dan minuman. Produk tersebut antara lain dodol jambu, sirup, sambal, madu, nugget, dan olahan menyerupai kurma.

Produk warga kemudian dipasarkan melalui kegiatan festival kuliner, toko oleh-oleh, hotel, koperasi, bazar, dan kegiatan pemerintah. Pemberitaan pada September 2024 menyebutkan bahwa produk-produk tersebut telah memiliki izin edar Produk Industri Rumah Tangga, sertifikat halal, dan sebagian dikembangkan menuju pemenuhan standar mutu yang lebih baik.

Kegiatan produksi juga menunjukkan kuatnya modal sosial warga. Karena keterbatasan ruang, gang kampung tidak hanya berfungsi sebagai jalur pergerakan, tetapi sesekali menjadi ruang produksi, interaksi, dan kerja bersama. Sebuah penelitian pada 2024 menilai praktik tersebut sebagai bentuk placemaking: warga memberi fungsi sosial dan ekonomi baru pada ruang kampung melalui kesepakatan serta kebersamaan.

Perkembangan Kampung Jambu memperlihatkan pergeseran yang menarik. Gemblakan Atas yang dahulu dikaitkan dengan keterampilan mengolah logam kini mengembangkan keterampilan baru dalam budidaya, pengolahan pangan, pengemasan, dan pemasaran produk.

Tantangan selanjutnya adalah menjaga kesinambungan pohon jambu, melakukan regenerasi kelompok tani, menyediakan ruang produksi yang memenuhi standar kesehatan, dan memperluas pemasaran. Konsep agrowisata kampung juga dapat dikembangkan secara terukur agar tidak mengganggu fungsi utama kawasan sebagai tempat tinggal warga.

Gemblakan Bawah: Penataan Kampung dan Kesiapsiagaan Bencana

Sementara itu, Gemblakan Bawah dikenal melalui pengalaman penataan kampung berbasis partisipasi masyarakat. Sebagai permukiman padat di sekitar Sungai Code, kawasan ini memiliki kerentanan terhadap banjir, kebakaran, dan persoalan kualitas lingkungan.

Melalui program penataan lingkungan permukiman, warga terlibat dalam pemetaan masalah, penyusunan desain kawasan, penentuan jalur evakuasi, dan perencanaan fasilitas keselamatan. Perubahan yang dilakukan meliputi pembangunan talud penahan banjir, penunjuk arah evakuasi, posko bencana, hidran kering, serta perbaikan lingkungan permukiman.

Kajian mengenai penataan Gemblakan Bawah menunjukkan bahwa proses tersebut tidak semata-mata berbentuk pembangunan fisik. Komunikasi antara pemerintah, fasilitator, dan masyarakat menjadi unsur penting. Warga ikut menentukan kebutuhan kampung sehingga hasil penataan memiliki rasa kepemilikan yang lebih kuat. Kampung yang sebelumnya menghadapi persoalan kekumuhan secara bertahap berkembang menjadi lingkungan yang lebih tertata, aman, nyaman, dan ramah anak.

Perkembangan itu penting karena penataan kampung kota tidak dapat hanya dilakukan dengan membangun infrastruktur. Keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan warga merawat fasilitas, menjaga kebersihan, memperbarui jalur evakuasi, dan memastikan kelompok rentan memperoleh perlindungan ketika terjadi bencana.

Sentra Kacang Bawang Gemblakan Bawah

Selain penataan lingkungan, Gemblakan Bawah juga mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis usaha warga. Salah satu potensinya adalah sentra produksi kacang bawang.

Pada 17 Juni 2026, Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kota Yogyakarta melakukan monitoring dan evaluasi terhadap sentra kacang bawang di Gemblakan Bawah. Kegiatan yang dilaksanakan di Balai RW 07 tersebut menunjukkan bahwa usaha pengolahan pangan warga telah memperoleh perhatian dalam program pembinaan pemerintah.

Keberadaan sentra tersebut membuka peluang bagi penguatan ekonomi rumah tangga. Namun, pengembangannya memerlukan peningkatan kualitas produk, legalitas usaha, sertifikasi halal, desain kemasan, pencatatan keuangan, akses permodalan, dan perluasan pemasaran digital.

Apabila dikelola secara kolektif, sentra kacang bawang dapat membentuk rantai produksi kampung: mulai dari pengadaan bahan baku, pengolahan, pengemasan, promosi, hingga penjualan. Model bersama seperti ini dapat memperbesar skala usaha dan memperkuat posisi tawar pelaku usaha kecil.

Aktivitas sosial warga juga tetap berjalan. Pada Juli 2026, warga RW 09 Gemblakan Bawah melaksanakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan. Kegiatan semacam ini memperlihatkan bahwa gotong royong masih menjadi kekuatan utama dalam menjaga hasil penataan kampung.

Menyatukan Sejarah dan Perkembangan Baru

Sejarah Gemblakan berawal dari keterampilan. Para gemblak lama mengolah kuningan untuk memenuhi kebutuhan keraton dan masyarakat kota. Kini, semangat keterampilan tersebut menemukan bentuk baru dalam budidaya jambu, pengolahan pangan, produksi kacang bawang, penataan lingkungan, dan kesiapsiagaan bencana.

Kampung Gemblakan Atas dan Gemblakan Bawah memang berkembang dengan kekhasan masing-masing. Gemblakan Atas menonjol sebagai Kampung Jambu yang menggabungkan penghijauan dengan pemberdayaan ekonomi. Gemblakan Bawah memperlihatkan kekuatan penataan permukiman partisipatif sekaligus tumbuh sebagai sentra usaha makanan warga.

Ke depan, sejarah perajin kuningan dapat dihadirkan kembali sebagai identitas budaya bersama. Dokumentasi mengenai para gemblak, pembuatan papan sejarah kampung, pengumpulan foto dan cerita warga, serta penciptaan motif visual bertema kuningan dapat memperkuat karakter kawasan. Identitas tersebut kemudian dapat dipadukan dengan produk unggulan kontemporer dari kedua kampung.

Dengan cara itu, Gemblakan tidak hanya dikenang sebagai bekas permukiman tukang kuningan. Kampung ini juga dapat dikenal sebagai kawasan yang mampu meneruskan semangat keahlian para pendahulunya: terampil mengolah sumber daya, kuat dalam bergotong royong, dan kreatif menghadapi perubahan zaman.

Sumber: Diolah dari Nur Aini Sulistyowati dan Heri Priyatmoko, Toponim Kota Yogyakarta, Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2019. Informasi mengenai perkembangan terkini Kampung Gemblakan dihimpun dari pemberitaan media dan portal resmi pemerintah dengan bantuan kecerdasan artifisial (AI) dalam proses penelusuran, pengolahan, dan penyuntingan informasi.

Tags:

GemblakanNama KampungToponim
Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Ledok Macanan: Jejak Kampung Lama yang Tumbuh di Tepian Sungai Code

Next

Kampung Gambiran: Dari Alas Gambir Menuju Kampung Hijau dan Budaya

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Tukangan dan Ledok Tukangan: Jejak Para Tukang di Jalur Kereta hingga Kampung Kota yang Terus Berubah
  • Tegalpanggung: Dari Tanah Tegalan Menuju Kampung Perkotaan
  • Sosrokusuman: Jejak Nama Lama di Tengah Dinamika Kota
  • Kampung Gambiran: Dari Alas Gambir Menuju Kampung Hijau dan Budaya
  • Gemblakan: Dari Kampung Perajin Kuningan Menuju Kampung Jambu dan Sentra Usaha Warga

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • August 2026

Categories

  • Etalase Kampung
  • Jelajah Kampung
  • Kabar Kampung
  • Suara Kampung
  • Uncategorized

info kontak: infokampungjogja@gmail.com

Copyright 2026 — kampungjogja.com. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme